Padasuka.tv – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) membuka ajang Week of Indonesia–Netherlands Education and Research (WINNER) 2026 bertema “Competitive and Resilient Societies: Human Capital, Innovation & Sustainability”. Pembukaan berlangsung pada Selasa, 6 Oktober 2026, dengan rangkaian kegiatan digelar pada 6–8 Oktober 2026 di dua negara dan tiga lokasi: kantor Kemdiktisaintek, Universitas Trisakti di Jakarta, serta Indonesia House Amsterdam.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyatakan bahwa kemitraan Indonesia–Belanda yang telah terjalin lama menyimpan potensi besar untuk memperluas kolaborasi. Ia menegaskan komitmen tersebut melalui program Diktisaintek Berdampak, yang memastikan pengetahuan, penelitian, dan inovasi dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
“Kita dapat memperkuat kolaborasi antar perguruan tinggi, memperluas kesempatan bagi mahasiswa dan peneliti, serta mengembangkan riset dan inovasi bersama yang dapat menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat kita,” tegas Menteri Brian dalam sambutannya. Ia berharap WINNER 2026 membuka peluang baru, menghasilkan gagasan baru, dan membangun hubungan yang lebih kuat antara masyarakat dan institusi kedua negara.
Belanda Investasi pada Talenta Sains dan Teknologi
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains Kerajaan Belanda, Rianne Letschert, menegaskan berbagai peluang kerja sama kedua negara dapat terjalin untuk menjawab tantangan bersama. Melalui strategi talenta nasional, Belanda berinvestasi dalam membangun pengetahuan.
“Seperti Indonesia, kami percaya pada pentingnya menghubungkan pendidikan dengan dunia kerja. Kami berinvestasi pada talenta-talenta yang menjanjikan di bidang sains dan teknologi. Kami juga menyadari pentingnya melihat lebih jauh dari batas-batas negara kita sendiri. Karena pengetahuan menjadi semakin berharga ketika kita membagikannya dan WINNER adalah contoh yang baik,” tegas Menteri Rianne.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menekankan inovasi tidak dapat dibangun oleh satu institusi, melainkan melalui sinergi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, industri, dan masyarakat. Menurutnya, pendidikan mempersiapkan manusia dengan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi; penelitian menyediakan bukti untuk merespons tantangan kompleks; sedangkan inovasi memindahkan pengetahuan dari universitas dan laboratorium menjadi solusi, teknologi, layanan, dan kebijakan yang menciptakan nilai nyata.
“Inovasi semakin banyak muncul ketika pengetahuan, penelitian, kewirausahaan, kebijakan, dan masyarakat saling terhubung,” jelas Kepala BRIN.
Baca Juga:
Integritas Akademik dan Pemberantasan Predatory Journal
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, memaparkan pentingnya membangun ekosistem sains dan teknologi yang kuat sekaligus menjaga integritas akademik dalam kolaborasi riset. Dirjen Najib menyebut Indonesia masih menghadapi tantangan berupa belum adanya peraih Nobel dari dalam negeri serta belum masuknya perguruan tinggi nasional ke jajaran 100 terbaik dunia.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia mengusung mandat transformasi ekosistem sains dan teknologi untuk dampak nasional melalui tiga pilar: pengembangan talenta, strategi dan sistem pembelajaran transformatif, serta diseminasi dan pemanfaatan sains dan teknologi.
“Kami berupaya menjadikan sains dan teknologi sebagai bagian dari budaya masyarakat melalui program-program matchmaking yang mengkolaborasikan perguruan tinggi, industri, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil dengan dukungan pendanaan dari LPDP,” jelas Dirjen Najib.
Dirjen Najib menekankan keberhasilan kolaborasi riset, termasuk dengan Belanda, sangat bergantung pada integritas peneliti. Ia menyoroti maraknya kasus pelanggaran akademik (academic misconduct) seperti plagiarisme, jual-beli publikasi, kartel sitasi, riset dan konferensi fiktif, hingga fenomena sitasi AI.
Mengambil pelajaran dari penanganan kasus Diederik Stapel di Belanda yang melibatkan tiga komite investigasi universitas, Kemdiktisaintek tengah menyiapkan langkah pencegahan dan tindakan korektif. Salah satunya melalui penyiapan Peraturan Menteri tentang Akreditasi Jurnal untuk memberantas predatory journal dan menjaga martabat komunitas akademik Indonesia.
Isu integritas akademik ini relevan dengan kebutuhan tata kelola di berbagai sektor, termasuk lembaga publik. Sebagai perbandingan, tata kelola organisasi yang kredibel juga menjadi perhatian dalam sertifikasi profesional di lingkungan lembaga keagamaan.
Melalui WINNER 2026, para pemangku kepentingan pendidikan dan riset dari Indonesia dan Belanda saling berbagi pengetahuan dan praktik terbaik. Konferensi internasional tahunan ini dimanfaatkan untuk membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan.
Pada kesempatan ini juga disampaikan informasi terkait babak baru program riset bersama Indonesia dan Belanda, yaitu panggilan proposal untuk program Merian Fund (kerja sama Kemdiktisaintek dan Dutch Research Council) dan gelombang ketiga program INUCoST (Konsorsium perguruan tinggi Indonesia dan Belanda).
Rangkaian WINNER 2026 mencakup upacara pembukaan dan penutupan yang melibatkan berbagai pembicara kunci dalam sesi paparan dan diskusi panel, serta sesi tematik yang membahas transformasi digital dan kecerdasan artifisial (AI), pendidikan, riset dan inovasi, human capital, serta keberlanjutan. Ajang ini juga menjadi ruang untuk menampilkan hasil kolaborasi Indonesia-Belanda melalui DUTEP dan mengumumkan pemenang Indonesia-Netherlands Thesis Prize (INS Thesis Prize) 2026.
Kolaborasi lintas negara semacam ini sejalan dengan upaya penguatan daya saing yang juga digenjot di sektor ekonomi, seperti yang ditunjukkan melalui ekspor kriya nasional. Pemerintah juga terus mendorong kemitraan dagang dengan berbagai negara, termasuk melalui ajakan pengusaha AS untuk menjadi buyer di ajang perdagangan internasional.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menegaskan komitmen ini melalui tagar #DiktisaintekBerdampak, #Pentingsaintek, dan #Kampusberdampak.























