Padasuka.tv – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar, atau yang akrab disapa Cak Imin, mulai menggunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinasnya pada Senin, 5 Oktober 2026. Kendaraan produksi PT Pindad tersebut digunakan Cak Imin untuk pertama kali berangkat bertugas dari kediamannya di Jakarta. Langkah ini menegaskan posisi Maung Garuda sebagai kendaraan operasional pejabat negara, sekaligus memperkuat pesan agar masyarakat mencintai produk dalam negeri.
Unit yang digunakan Menko Muhaimin merupakan Maung MV3 Garuda Limousine dengan pelat RI 27. Varian ini dikembangkan dengan desain yang lebih elegan, kabin berfitur tinggi, serta perlindungan khusus untuk kebutuhan kenegaraan. Cak Imin mengaku bangga dapat menggunakan kendaraan buatan anak bangsa tersebut. Baginya, penggunaan Maung Garuda bukan sekadar soal kendaraan dinas, melainkan bagian dari upaya membangun kebanggaan terhadap karya anak bangsa. “Bangga Buatan Indonesia! Hari ini, untuk pertama kalinya saya berangkat bertugas dengan Maung Garuda, kendaraan dinas buatan PT Pindad,” ujar Cak Imin dalam keterangan resminya.
Menurut Cak Imin, Maung Garuda menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk menghasilkan produk berteknologi dan bernilai tinggi. Kendaraan tersebut dikembangkan PT Pindad sebagai bagian dari pengembangan ekosistem industri otomotif nasional. “Bukti penting kalau Indonesia mampu. Dirancang, dirakit, dan dikerjakan oleh tangan anak bangsa sendiri,” tegas Ketua Umum DPP PKB itu.
![]()
Pernyataan Cak Imin menempatkan kebanggaan terhadap produk dalam negeri sebagai agenda yang harus dibangun dari berbagai lini, termasuk dari lingkungan pemerintahan. Ia menilai penggunaan kendaraan produksi dalam negeri di lingkungan pejabat negara dapat menjadi contoh sekaligus mendorong masyarakat semakin percaya dan bangga terhadap produk Indonesia. “Kita ingin masyarakat bangga pada produk dalam negeri. Dari kendaraan dinas, sampai UMKM di pasar desa, semangatnya sama: pakai karya sendiri, besarkan bangsa sendiri,” katanya.
Maung Garuda sendiri sebelumnya telah digunakan Presiden Prabowo Subianto sebagai kendaraan kepresidenan. Kendaraan produksi PT Pindad itu bahkan dibawa ke Cebu, Filipina, untuk mendukung mobilitas Presiden Prabowo dalam rangkaian KTT ASEAN ke-48. Penggunaan tersebut menjadikan Maung Garuda tidak hanya beroperasi di dalam negeri, tetapi juga tampil di panggung internasional sebagai representasi kapabilitas industri pertahanan dan otomotif nasional.
Cak Imin pun menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto yang terus mendorong penggunaan dan pengembangan produk industri dalam negeri. “Terima kasih Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujar Cak Imin. Apresiasi itu menegaskan kesinambungan kebijakan antara level kepresidenan dan kementerian koordinator dalam mendorong penggunaan produk dalam negeri di lingkungan pemerintahan.
Maung Garuda dan Ekosistem Industri Otomotif Nasional
Maung Garuda dikembangkan PT Pindad sebagai bagian dari pengembangan ekosistem industri otomotif nasional. Proses perancangan, perakitan, dan pengerjaan kendaraan ini dilakukan oleh sumber daya manusia dalam negeri. Dalam pernyataan Cak Imin, tiga aspek itu — dirancang, dirakit, dan dikerjakan oleh tangan anak bangsa — menjadi poin utama yang menegaskan kemampuan industri nasional menghasilkan produk berteknologi dan bernilai tinggi.
Cikal bakal kendaraan ini berawal dari pengembangan kendaraan taktis 4×4, sebelum kemudian pengembangan dan produksinya ditangani PT Pindad dan melahirkan berbagai varian. Salah satu pengembangan terbarunya adalah MV3 Garuda Limousine yang kini dipakai Menko Muhaimin. Di balik satu unit Maung, terdapat rantai pekerjaan yang jauh lebih panjang daripada sekadar proses perakitan. Pengembangannya mencakup desain, rekayasa, pengujian, validasi hingga produksi, dengan keterlibatan pemasok dan industri pendukung dari berbagai daerah.
Komponen buatan dalam negeri juga diutamakan dalam pengembangannya. Sementara sejumlah bagian yang belum tersedia di Indonesia, seperti mesin dan transmisi, diperoleh melalui kerja sama dengan mitra global. Pola tersebut menunjukkan bahwa membangun produk nasional juga berarti membangun ekosistem industri secara bertahap.
Posisi Maung Garuda sebagai kendaraan dinas pejabat negara memperluas konteks penggunaan kendaraan produksi Pindad. Sebelumnya kendaraan ini identik dengan kendaraan kepresidenan, termasuk saat mendukung mobilitasi Presiden Prabowo dalam rangkaian KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina. Kini, penggunaan di tingkat menteri koordinator menambah lapisan baru dalam praktik penggunaan produk dalam negeri di lingkungan pemerintahan. Saat ini, sejumlah unit kendaraan buatan PT Pindad telah dialokasikan kepada pejabat negara, khususnya jajaran menteri koordinator.
Konteks kebijakan pemerintahan Prabowo juga tercermin dari sejumlah program yang mendorong kemandirian dan pemerataan. Sejumlah program tersebut menyentuh sektor pendidikan, perumahan, hingga pemberdayaan masyarakat. Salah satu sorotan datang dari Pendidikan Makin Merata yang mencatat capaian satu tahun pemerintahan Prabowo di sektor pendidikan.
Di luar sektor pendidikan, pendekatan ekosistem juga diterapkan pada sektor perumahan. Cak Imin sendiri mendorong perumahan sebagai ekosistem ekonomi, sebagaimana tergambar dalam artikel Perumahan Ekosistem Ekonomi. Pendekatan serupa terlihat pada program pemberdayaan masyarakat yang menyasar kelompok-kelompok strategis, termasuk kalangan Hijabfluencer Pemberdayaan.
Dalam kerangka yang lebih luas, dorongan penggunaan produk dalam negeri juga bersinggungan dengan upaya penguatan industri halal nasional. Gagasan bahwa sektor ini membutuhkan orkestrator, bukan sekadar sertifikasi, sejalan dengan logika ekosistem yang diusung Maung Garuda, sebagaimana dibahas dalam artikel Industri Halal Butuh Orkestrator.
Penggunaan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas Cak Imin menempatkan isu produk dalam negeri dalam kerangka yang lebih luas: bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga soal kebanggaan, kapasitas industri, dan contoh dari lingkungan pemerintahan. Cak Imin menyatakan semangat yang sama berlaku dari kendaraan dinas hingga UMKM di pasar desa, yaitu memakai karya sendiri dan membesarkan bangsa sendiri.
Pesan dari Kendaraan Dinas hingga UMKM
Dalam pernyataannya, Cak Imin menekankan bahwa kebanggaan terhadap produk dalam negeri harus dibangun dari berbagai lini. Lingkungan pemerintahan disebutnya sebagai salah satu titik awal yang penting. Harapannya, penggunaan kendaraan produksi dalam negeri oleh pejabat negara dapat menjadi contoh dan mendorong masyarakat semakin percaya serta bangga terhadap produk Indonesia.
Bagi Menko Muhaimin, ukuran keberhasilan produk dalam negeri bukan hanya soal seberapa besar produknya atau seberapa canggih teknologinya. Yang tidak kalah penting adalah seberapa luas manfaat ekonomi yang tercipta di belakangnya, mulai dari tenaga kerja, pemasok, pelaku usaha hingga masyarakat yang terlibat dalam rantai produksinya. Cara pandang tersebut juga berlaku pada UMKM. Produk yang dibuat pelaku usaha di desa mungkin berbeda skala dengan Maung, tetapi memiliki persoalan yang sama, yaitu bagaimana membangun kualitas, kepercayaan, pasar, dan keberanian untuk menggunakan karya sendiri.
Pernyataan tersebut menyambung dengan sejumlah agenda pemberdayaan yang berada di bawah koordinasi Kemenko PM. Salah satunya adalah dorongan agar filantropi menjadi motor kemandirian masyarakat, yang menempatkan kemandirian sebagai tujuan bersama. Selain itu, promosi produk dan destinasi Indonesia ke pasar internasional juga berjalan melalui kanal diplomasi, seperti yang dilakukan dalam Promosi Wonderful Indonesia di Tokyo.
Upaya memperluas pasar produk nasional juga terlihat dari langkah pemerintah menggaet pembeli mancanegara. Dorongan agar pengusaha Amerika Serikat menjadi buyer pada gelaran dagang tahunan, seperti yang diberitakan dalam Pengusaha AS Jadi Buyer, memperlihatkan bahwa kepercayaan pada produk Indonesia tidak berhenti di pasar domestik. Langkah ini juga bersinggungan dengan arahan optimalisasi aset dan perluasan kemitraan yang dibahas dalam artikel Optimalisasi Aset BUMN.
Penggunaan Maung Garuda oleh Cak Imin juga memperlihatkan bahwa kendaraan produksi PT Pindad telah melewati tahap pembuktian di level kepresidenan dan kini memasuki level kementerian koordinator. Jejak penggunaan ini tercatat sejak kendaraan tersebut mendukung mobilitas Presiden Prabowo, termasuk saat dibawa ke Cebu, Filipina, untuk rangkaian KTT ASEAN ke-48.
Dengan demikian, Maung Garuda berfungsi sebagai penanda ganda: simbol kapabilitas industri dalam negeri dan instrumen kebijakan untuk membangun kebanggaan terhadap produk Indonesia. Cak Imin menutup pernyataannya dengan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terus mendorong penggunaan dan pengembangan produk industri dalam negeri. “Kita ingin masyarakat bangga pada produk dalam negeri. Dari kendaraan dinas, sampai UMKM di pasar desa, semangatnya sama, pakai karya sendiri, besarkan bangsa sendiri,” ujar Menko Muhaimin.
Bagi publik, perkembangan ini memberi gambaran bahwa kendaraan produksi dalam negeri tidak lagi berhenti pada pameran atau prototipe, tetapi telah masuk ke dalam rutinitas operasional pejabat negara. Dampak lanjutannya akan bergantung pada sejauh mana penggunaan produk dalam negeri di lingkungan pemerintahan diikuti oleh sektor lain dan masyarakat luas.























