Padasuka.tv – Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan menggelar Karantina Goes to Campus 2026 di Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa, 6 Oktober 2026. Kegiatan bertema “Think Global, Protect Local: Peran Generasi Muda Menuju Indonesia Emas” ini menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari mata rantai perlindungan sumber daya hayati di tengah arus komoditas yang semakin terbuka.
Acara berlangsung di Aula Arsjad Rasyid, Kampus Unhas Tamalanrea. Kepala Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan, Ir. Sitti Chadidjah, M.Si., menyatakan mobilitas komoditas pertanian, perikanan, dan peternakan dari Sulawesi Selatan membuka peluang ekonomi besar. Namun, pergerakan itu membawa konsekuensi terhadap sumber daya hayati.
“Komoditas pertanian, perikanan, maupun peternakan dari Sulsel dapat bergerak dan menjangkau berbagai negara. Hal tersebut membuka peluang ekonomi yang besar. Namun, mobilitas tersebut juga membawa risiko penyebaran hama dan penyakit,” kata Sitti.
Menurutnya, perlindungan sumber daya hayati tidak cukup dilakukan ketika ancaman sudah muncul. Pencegahan perlu dilakukan sejak komoditas berada di negara asal hingga masuk dan beredar di Indonesia. Prinsip itu sejalan dengan pendekatan pencegahan yang menuntut kesiapan sistem di banyak titik sekaligus, bukan reaksi setelah kerugian terjadi. Pendekatan serupa juga menonjol dalam kebijakan publik lain, seperti yang tergambar dalam langkah Wajib Halal yang menekankan kepastian sejak hulu.
Biosekuriti dan Tiga Lapis Pertahanan
Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok bahasan yang disampaikan Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Badan Karantina Indonesia, Hudiansyah Is Nursal, S.H., M.I.L.I.R. Ia menjelaskan biosekuriti sebagai rangkaian upaya untuk mencegah masuk, keluar, dan tersebarnya hama, penyakit hewan dan ikan, serta organisme pengganggu tumbuhan. Dampaknya tidak hanya menyangkut produksi pangan, tetapi juga kesehatan, lingkungan, dan keberlanjutan sumber daya alam.
Menurut Hudiansyah, pendekatan pencegahan membutuhkan analisis risiko, surveilans, diagnostik, pemantauan, serta pemanfaatan data dan teknologi. Ancaman harus dikenali sedini mungkin sebelum menimbulkan kerugian yang lebih luas.
Badan Karantina Indonesia menerapkan Multi Layered Defense System melalui tiga lapis pengawasan: pre-border, at-border, dan post-border. Pada tahap pre-border, pengendalian dilakukan melalui persyaratan dan tindakan karantina di negara asal komoditas. Ketika komoditas tiba di Indonesia, pengawasan dilakukan melalui pemeriksaan dokumen, fisik, dan tindakan karantina pada tahap at-border. Setelah komoditas berada di wilayah Indonesia, pengawasan berlanjut melalui mekanisme post-border.
Baca Juga:
Sistem berlapis tersebut dirancang agar risiko tidak hanya ditangani di satu titik. Bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan wilayah luas dan banyak pintu masuk, pengawasan pada berbagai tahapan menjadi penting untuk menjaga keamanan sumber daya hayati. Logika pertahanan berlapis ini bukan hal baru dalam tata kelola sumber daya; pendekatan Duta Minerba juga menekankan pemahaman lapangan yang menyeluruh sebelum pengambilan keputusan.
Di kampus, isu tersebut ditempatkan dalam konteks kesiapan generasi muda menghadapi perdagangan dan mobilitas global. Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Internasionalisasi, dan Kealumnian Universitas Hasanuddin, Prof. Ir. Suharman Hamzah, S.T., M.T., Ph.D., HSE., mengatakan dunia akademik membutuhkan keterhubungan yang lebih kuat dengan praktik di lapangan.
“Kampus membutuhkan kehadiran praktisi. Kami sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini dan berharap kolaborasi tersebut dapat terus dikembangkan, termasuk melalui hadirnya Center Point Karantina di Unhas,” ujar Suharman.
Menurut Suharman, keberadaan Center Point Karantina di lingkungan Unhas dapat menjadi penghubung antara pengetahuan akademik dan praktik perlindungan sumber daya hayati. Mahasiswa perlu memahami bahwa keterbukaan dunia tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga meningkatkan risiko. Teknologi, perdagangan internasional, standar global, inovasi, dan perubahan lingkungan perlu dipahami bersamaan dengan upaya menjaga sumber daya hayati dan produksi pangan.
“Pengetahuan dan kemajuan tersebut harus kita gunakan untuk menjaga sumber daya hayati, biodiversitas, produksi pangan, serta berbagai potensi unggulan yang kita miliki di daerah,” katanya.
Kolaborasi kampus dan praktisi menjadi pola yang kian lazim dalam agenda pembangunan sumber daya manusia. Sejumlah program lain menempuh jalur serupa, misalnya keterlibatan kampus dalam Campuspreneur yang memperluas partisipasi mahasiswa. Di sisi lain, kompetisi inovasi seperti PGTC 2026 menunjukkan minat generasi muda pada solusi berbasis teknologi dan keberlanjutan.
Karantina Goes to Campus 2026 pada akhirnya menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari mata rantai perlindungan sumber daya hayati. Di tengah arus komoditas yang semakin terbuka, ancaman tidak selalu datang dari sesuatu yang terlihat. Kadang, ia ikut bergerak bersama barang yang diperdagangkan.























