Padasuka.tv – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia, menilai Indonesia memiliki potensi besar wisata gastronomi yang layak dikembangkan sebagai daya tarik wisatawan. Pernyataan itu disampaikannya di Jakarta pada 8 Oktober 2026, dengan menekankan bahwa kekayaan kuliner, sejarah, dan budaya di balik pengolahan makanan dapat menjadi magnet utama kunjungan wisata.
Dalam paparannya, Chusnunia merujuk definisi World Tourism Organization (UNWTO) yang menyebut wisata gastronomi sebagai perjalanan wisata ke suatu daerah dengan makanan sebagai tujuan utama rekreasi. Konsep ini tidak berhenti pada cita rasa, melainkan menekankan pengalaman memahami sejarah asal-usul, seni penyajian, hingga kisah yang melatarbelakangi suatu hidangan.
“Selain soal cita rasa, kekayaan sejarah dan budaya yang melatarbelakangi sebuah hidangan menjadi bagian penting dalam pengembangan wisata gastronomi Indonesia,” ujarnya.
Politikus yang dikenal memiliki hobi travelling ini menempatkan gastronomi sebagai instrumen diplomasi budaya sekaligus penggerak ekonomi. Ia menilai Indonesia tidak hanya kaya akan bahan dan resep, tetapi juga menyimpan cerita, pengalaman budaya, serta keberlanjutan sumber pangan lokal yang bisa dikemas menjadi paket wisata utuh.
![]()
Belajar dari Jepang hingga Thailand
Chusnunia menunjuk sejumlah negara yang sukses mengubah kuliner lokal menjadi daya tarik wisata utama. Jepang menjadikan kuliner tradisional Washoku sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Thailand menjalankan program “Kitchen of the World”. Prancis mengintegrasikan perkebunan anggur dengan keahlian memasak tingkat tinggi sebagai identitas nasional. Spanyol memadukan tradisi kuliner dengan inovasi gastronomi modern.
“Negara-negara tersebut berhasil mengubah kuliner lokal menjadi daya tarik wisata utama yang mendatangkan jutaan turis setiap tahunnya. Indonesia juga memiliki banyak potensi wisata gastronomi yang menghadirkan cerita, pengalaman budaya, serta keberlanjutan sumber pangan lokal,” tambahnya.
Ia juga menyoroti pengakuan internasional terhadap warisan kuliner Nusantara. Rendang dan Tempe tercatat telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Dua ikon itu disebutnya sebagai bukti bahwa kuliner Indonesia mampu bersaing di panggung global.
Dari sisi kebijakan, Chusnunia mendukung langkah pemerintah yang telah meluncurkan Indonesia Gourmet Guide dan Indonesia Local Eateries. Kedua kanal itu dinilai memudahkan wisatawan domestik maupun mancanegara menavigasi kuliner autentik hingga fine dining.
Baca Juga:
Literatur Kuliner Jadi Modal Diplomasi
Chusnunia menegaskan Indonesia memiliki rekam jejak literatur kuliner yang kaya. Ia menyebut catatan resep RA Kartini, buku masak Nyonya Belanda, hingga buku resep kepresidenan Mustika Rasa (1967) yang memuat 1.685 resep nusantara.
“Kekayaan gastronomi Indonesia menjadi modal besar untuk menarik minat kunjungan wisatawan mancanegara. Saatnya kuliner Nusantara mendunia,” pungkasnya.
Isu gastronomi ini bersinggungan dengan agenda gizi dan pangan nasional yang tengah berjalan. Program makanan bergizi yang menyasar puluhan juta siswa menjadi bagian dari ekosistem pangan yang lebih luas, sebagaimana dibahas dalam artikel Program Gizi Nasional. Di sisi lain, penguatan riset dan kelembagaan pangan terus disiapkan, termasuk melalui penyiapan kampus dan laboratorium pendukung, seperti diulas dalam Dukung BPGMN.
Dalam konteks ekonomi yang lebih luas, hilirisasi dan penguatan nilai tambah sumber daya alam menjadi tema yang tak terpisahkan dari upaya memperkuat produk lokal. Pemerintah sebelumnya meresmikan sejumlah proyek hilirisasi bernilai besar, sebagaimana dilaporkan dalam Proyek Hilirisasi Nikel. Ekspor perdana baterai EV juga disebut sebagai bukti bahwa strategi hilirisasi berjalan, seperti dikutip dari Ekspor Perdana Baterai.
Bagi sektor pariwisata, dorongan Chusnunia menempatkan gastronomi bukan sekadar pelengkap perjalanan, melainkan produk utama. Pendekatannya menautkan kuliner dengan sejarah, literasi, dan keberlanjutan pangan lokal, sehingga wisatawan tidak hanya menikmati hidangan, tetapi juga memahami konteks budaya di baliknya.
Pemerintah kini memiliki dua kanal navigasi kuliner yang dapat dioptimalkan pelaku usaha, yakni Indonesia Gourmet Guide dan Indonesia Local Eateries. Keduanya berpotensi menghubungkan warung lokal hingga restoran fine dining dengan pasar wisatawan domestik dan mancanegara.
Dengan pengakuan UNESCO atas Rendang dan Tempe, serta jejak literatur kuliner yang terdokumentasi, Indonesia memiliki bahan baku narasi yang kuat. Pertanyaannya kini bergantung pada eksekusi: seberapa cepat ekosistem kuliner, pariwisata, dan kebijakan pangan bergerak seiring untuk mengubah potensi itu menjadi kunjungan wisata yang nyata.























