Padasuka.tv – Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Rimbawati, bersama timnya membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro di Dusun Bintang Asih, Desa Rumah Sumbul, sejak 2017 dan masih beroperasi hingga kini. Pembangkit itu mengubah motor induksi bekas seharga sekitar Rp200 ribu menjadi generator, serta memasok listrik bagi warga yang sebelumnya tidak memiliki akses listrik.
Pembangkit tersebut dibangun dengan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Pada 2017, sekitar 30 kepala keluarga di Dusun Bintang Asih belum menikmati listrik. Rimbawati dan tim memanfaatkan aliran air di sekitar permukiman untuk menggerakkan sistem mikrohidro, lalu mengembangkannya menjadi sistem hibrida dengan tambahan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 1.000 watt.
“Dampaknya, yang dulunya mereka tidak mengenal listrik, dari tahun 2017 sampai hari ini mereka sudah dapat mengenyam listrik dari hasil penelitian dan pengabdian yang kami lakukan,” tutur Rimbawati dalam keterangan resmi Humas UMSU. Rangkaian kerja itu sejalan dengan arah kebijakan Diktisaintek Berdampak yang mendorong perguruan tinggi berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan masyarakat dan kemandirian teknologi nasional.
Inovasi motor induksi bekas menjadi generator menjadi salah satu simpul utama proyek ini. Menurut Rimbawati, harga komponen yang murah tidak menghalangi penerapan teknologi tepat guna. “Dengan harga yang relatif murah, hanya dua ratus ribu rupiah, kami melakukan inovasi dengan mengubah motor induksi tadi menjadi sebuah generator. Kemudian saya aplikasikan untuk membangun pembangkit listrik mikrohidro,” ujarnya.
Selain mikrohidro, Rimbawati mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya dan biogas dari kotoran sapi. Ia mengajar di UMSU sejak 2004 dan mengampu mata kuliah Analisis Sistem Tenaga, Energi Baru dan Terbarukan, serta Metode Penelitian. Fokus penelitiannya mencakup tiga sumber energi terbarukan: mikrohidro, tenaga surya, dan biogas. Sejak 2015, sejumlah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ia jalankan bersama tim didanai hibah dari kementerian yang membidangi pendidikan tinggi.
Dari Pematang Johar hingga Langkat: Efisiensi dan Pengolahan Limbah
Penerapan sistem tenaga surya tidak berhenti di Dusun Bintang Asih. Rimbawati juga memasang sistem serupa di kawasan wisata Desa Pematang Johar. Menurutnya, sistem yang dirancang bersama tim itu menekan biaya listrik di lokasi wisata tersebut hingga 80 persen. Angka itu menjadi salah satu indikator terukur dari pemanfaatan energi terbarukan pada sektor usaha kecil dan kawasan wisata desa.
Di Desa Bekium, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat, Rimbawati dan tim mengembangkan proyek percontohan biogas. Kotoran sapi dari peternakan di desa tersebut mencapai sekitar 18 ton per hari dan berpotensi mencemari udara serta air apabila tidak diolah. Melalui proyek itu, warga mendapat edukasi untuk mengolah limbah ternak menjadi biogas. Gas yang dihasilkan dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sehingga mengurangi pengeluaran keluarga untuk membeli elpiji.
“Itu cara kami memberikan edukasi kepada masyarakat di Desa Bekium, bahwa limbah peternakan yang terbuang dan menjadi polusi udara maupun polusi air dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan gas bagi kebutuhan keluarga,” jelasnya. Pendekatan ini menempatkan riset terapan sebagai solusi langsung atas persoalan lingkungan dan ekonomi rumah tangga, bukan sekadar luaran akademik.
Baca Juga:
Rimbawati menilai inovasi di bidang energi terbarukan tidak cukup berhenti sebagai rancangan di atas kertas atau temuan di laboratorium, tetapi harus dapat digunakan masyarakat. “Bidang-bidang teknik cenderung banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Riset yang kita lakukan bisa langsung diimplementasikan kepada masyarakat,” katanya. Pernyataan itu menegaskan orientasi hilirisasi riset kampus ke kebutuhan riil warga, khususnya di daerah yang belum terjangkau jaringan listrik.
Dukungan institusi menjadi faktor penopang. Rimbawati menyebut UMSU menyediakan fasilitas laboratorium, bantuan materi, hingga kelengkapan administrasi yang menopang pelaksanaan penelitian dan pengabdiannya. Dukungan semacam ini memungkinkan tim bergerak dari perancangan, pengujian, hingga pemasangan sistem di lokasi sasaran tanpa terhambat persoalan nonteknis.
Ke depan, Rimbawati berencana menggabungkan mikrohidro, tenaga surya, dan biogas menjadi satu sistem energi terpadu. “Semoga ke depan saya bisa mengolaborasikan mikrohidro, tenaga surya, dan biogas yang berasal dari limbah peternakan maupun limbah rumah tangga menjadi sebuah inovasi yang dapat digunakan masyarakat, khususnya di pedesaan,” harapnya. Jika terwujud, sistem energi terpadu itu berpotensi menjadi model bagi desa lain dengan karakter sumber daya serupa.
Riset Terapan dan Arah Kebijakan Diktisaintek Berdampak
Jejak proyek Rimbawati memperlihatkan pola yang konsisten: identifikasi persoalan warga, pemanfaatan sumber daya setempat, dan penggunaan komponen berbiaya rendah. Motor induksi bekas seharga sekitar Rp200 ribu yang diubah menjadi generator menjadi contoh paling konkret. Pendekatan itu menekan biaya awal pembangunan pembangkit, faktor yang sering menjadi penghambat utama listrik pedesaan.
Dari sisi kebijakan, rangkaian kerja tersebut sejalan dengan Diktisaintek Berdampak yang mendorong perguruan tinggi berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan masyarakat dan kemandirian teknologi nasional. Dalam konteks ini, kampus tidak hanya menjadi tempat produksi publikasi ilmiah, tetapi juga penyedia solusi teknis yang bisa dioperasikan dan dirawat warga. Peran dosen bergeser menjadi fasilitator penerapan teknologi di lapangan.
Sejumlah data yang disebut Rimbawati memberi gambaran skala dampak: sekitar 30 kepala keluarga di Dusun Bintang Asih mendapat akses listrik sejak 2017, tambahan tenaga surya 1.000 watt memperkuat pasokan, efisiensi biaya listrik hingga 80 persen di kawasan wisata Desa Pematang Johar, dan potensi limbah ternak sekitar 18 ton per hari di Desa Bekium yang diolah menjadi biogas. Angka-angka itu menjadi basis penilaian keberhasilan program, bukan sekadar klaim naratif.
Bagi perguruan tinggi lain, model kerja ini menawarkan kerangka yang dapat direplikasi: riset berbasis kebutuhan desa, pendanaan hibah kementerian, kemitraan dengan pemerintah desa, dan pemanfaatan komponen murah yang tersedia di pasar lokal. Tantangan berikutnya terletak pada pemeliharaan jangka panjang dan regenerasi tenaga teknis di tingkat desa agar sistem tetap berjalan setelah masa pendampingan berakhir.
Rencana integrasi tiga sumber energi menjadi satu sistem terpadu menandai arah baru. Alih-alih membangun pembangkit tunggal, pendekatan terpadu memungkinkan desa memanfaatkan air, matahari, dan limbah ternak secara bersamaan untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha produktif. Padasuka.tv mencatat, perkembangan proyek ini akan bergantung pada ketersediaan pendanaan lanjutan dan kesiapan warga mengelola sistem secara mandiri.
Sebagai informasi, sejumlah isu lain turut menjadi perhatian publik dalam periode yang sama, mulai dari penegakan hukum hingga pembangunan infrastruktur. Padasuka.tv sebelumnya melaporkan penipuan investasi kripto yang ditangani Polda Jatim, serta progres pemenang huntap di Sumatera. Sementara itu, catatan sejarah menunjukkan peran organisasi masyarakat dalam menjaga kedaulatan, seperti terlihat pada Muktamar NU 1936.























