Padasuka.tv – Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti, menerima delegasi UK All-Party Parliamentary Group (APPG) Indonesia di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (7 Okt). Pertemuan tersebut membahas upaya memperkuat hubungan perdagangan dan kemitraan ekonomi antara Indonesia dan Inggris, dengan Inggris disebut sebagai salah satu mitra ekonomi penting bagi Indonesia.
Dalam pertemuan itu, Wamendag menyampaikan bahwa Inggris menempati posisi strategis dalam peta perdagangan luar negeri Indonesia. Ia pun mendorong peningkatan perdagangan pada sejumlah sektor, mulai dari furnitur dan dekorasi rumah, tekstil dan produk fesyen, makanan dan minuman, produk pertanian, hingga berbagai produk manufaktur bernilai tambah.

Dorongan itu bukan tanpa alasan. Produk-produk yang disebut Wamendag merupakan komoditas yang telah lama menjadi andalan ekspor Indonesia, sekaligus sektor yang menyerap banyak tenaga kerja di dalam negeri. Furnitur dan dekorasi rumah, misalnya, dikenal sebagai subsektor padat karya yang bergantung pada permintaan pasar negara maju seperti Inggris.
Dalam pertemuan tersebut, Wamendag juga mengundang pelaku usaha Inggris untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Ajang pameran dagang terbesar Indonesia itu dijadwalkan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, dengan tema “The Ultimate Hub for Global Sourcing.”

Undangan itu menempatkan TEI 2026 sebagai kanal konkret bagi pembeli asing untuk bertemu langsung dengan eksportir Indonesia. Sebelumnya, Menteri Perdagangan juga telah mengajak kalangan pengusaha Amerika Serikat untuk hadir sebagai buyer dalam gelaran yang sama, seperti diberitakan dalam artikel Mendag Busan Ajak.
Pertemuan dengan delegasi APPG Indonesia diharapkan menghasilkan langkah-langkah konkret dalam meningkatkan perdagangan, memperkuat investasi, dan mendorong kemitraan ekonomi yang lebih komprehensif antara Indonesia dan Inggris. Harapan itu disampaikan tanpa merinci target angka maupun tenggat waktu tertentu.

Sektor Andalan dan Nilai Tambah
Lima sektor yang disorot Wamendag mencerminkan arah kebijakan ekspor yang menekankan nilai tambah. Furnitur dan dekorasi rumah, tekstil dan produk fesyen, makanan dan minuman, produk pertanian, serta produk manufaktur bernilai tambah disebut secara eksplisit sebagai prioritas peningkatan perdagangan dengan Inggris.
Penyebutan produk manufaktur bernilai tambah mengindikasikan bahwa Indonesia tidak hanya mendorong ekspor bahan mentah. Hilirisasi dan pengolahan di dalam negeri menjadi bagian dari narasi yang dibawa dalam forum bilateral tersebut.

Baca Juga:
Di sisi lain, diplomasi dagang Indonesia juga berjalan di jalur lain. Kementerian Perdagangan dan otoritas terkait terus menjajaki kerja sama lintas negara, termasuk di sektor jasa dan ekonomi syariah, sebagaimana tergambar dalam pembahasan Ekonomi Syariah bersama DSN MUI.
TEI 2026 sebagai Pintu Masuk
Trade Expo Indonesia ke-41 menjadi instrumen yang ditawarkan Wamendag kepada pelaku usaha Inggris. Pameran bertema “The Ultimate Hub for Global Sourcing” itu berlangsung 14–18 Oktober 2026 di ICE, BSD City.
Bagi eksportir dalam negeri, kehadiran buyer Inggris di TEI menjadi peluang kontrak langsung tanpa perantara. Skema pameran dagang memungkinkan negosiasi harga, spesifikasi, dan volume dilakukan secara tatap muka dalam satu lokasi.

Pertemuan Wamendag dengan delegasi parlemen Inggris ini juga menyentuh dimensi investasi, bukan sekadar arus barang. Pernyataan resmi menyebut penguatan investasi sebagai salah satu hasil yang diharapkan dari dialog tersebut.
Dalam pertemuan itu, Wamendag didampingi sejumlah pejabat Kementerian Perdagangan. Turut hadir Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Johni Martha, dan Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur, Deden Muhammad Fajar Shiddiq.

Keduanya mewakili dua fungsi yang bersinggungan langsung dengan isi pembicaraan: perundingan dagang internasional dan pengembangan ekspor produk manufaktur. Kehadiran mereka menandakan bahwa tindak lanjut pertemuan akan menyentuh ranah teknis, bukan hanya seremonial.
Di sisi lain, Indonesia juga memperluas kerja sama di sektor jasa dan ketenagakerjaan lintas negara. Sejumlah organisasi masyarakat turut menyiapkan sumber daya manusia untuk pasar kerja luar negeri, seperti langkah yang dibahas dalam artikel SDM Profesional NU untuk Qatar.
Pertemuan dengan APPG Indonesia sendiri bersifat kunjungan parlemen, bukan negosiasi perjanjian dagang formal. Karena itu, hasil konkretnya masih bergantung pada tindak lanjut di tingkat kementerian dan pelaku usaha masing-masing negara.
Kendati demikian, forum semacam ini berfungsi menjaga jalur komunikasi politik antara kedua negara. Dukungan parlemen Inggris menjadi penting ketika isu perdagangan menyentuh pembahasan regulasi di tingkat legislatif.
Bagi pelaku usaha Indonesia yang ingin menjajaki pasar Inggris, informasi resmi mengenai TEI ke-41 dan sektor prioritas dapat menjadi titik awal. Sementara bagi pengusaha Inggris, pameran tersebut menawarkan akses langsung ke rantai pasok manufaktur dan produk bernilai tambah Indonesia.
Kerja sama lintas sektor juga terus dibahas di dalam negeri, termasuk kesiapan regulasi energi yang melibatkan organisasi masyarakat, seperti tergambar dalam pembahasan RUU Migas bersama FSPPB di Jakarta.
[ META_DESCRIPTION]
Wamendag Dyah Roro Esti menerima delegasi APPG Indonesia, dorong ekspor sektor furnitur hingga manufaktur dan tawarkan Trade Expo Indonesia ke-41.























