Padasuka.tv – Sebanyak 20 peserta Program Bengkalis Mahir 2026 resmi menerima sertifikat kompetensi BNSP Welding Supervisor setelah menyelesaikan pelatihan dan uji sertifikasi yang difasilitasi Politeknik Negeri Bengkalis (Polbeng) melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Polbeng. Penyerahan sertifikat berlangsung di Aula Wisma Pertamina, Kompleks PT Pertamina Patra Niaga RU Dumai Production Sungai Pakning, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Polbeng Johny Custer, Wakil Direktur III Marhadi Sastra, Ketua UPA Layanan Uji Sertifikasi sekaligus Ketua LSP Polbeng Zainal Abidin, Manager Administrasi LSP Polbeng Abdul Hadi, serta jajaran PT Pertamina Patra Niaga RU Dumai Production Sungai Pakning. Program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan melalui Program Bengkalis Mahir yang menyasar peningkatan kompetensi sumber daya manusia di wilayah kerja perusahaan.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pelatihan pada 3–22 Juni 2026, lalu dilanjutkan uji sertifikasi pada 23–24 Juni 2026. Dua puluh peserta yang berasal dari wilayah kerja PT Pertamina Patra Niaga RU Dumai Production Sungai Pakning mengikuti seluruh tahapan hingga dinyatakan kompeten dan berhak menyandang sertifikat Welding Supervisor.
Kolaborasi Vokasi dan Industri di Bengkalis
Program Bengkalis Mahir merupakan tindak lanjut kerja sama antara Polbeng dan PT Pertamina Patra Niaga RU II Production Sungai Pakning yang disepakati pada April 2026. Dalam skema tersebut, Polbeng melalui LSP Polbeng ditunjuk sebagai fasilitator pelatihan dan sertifikasi. Pada tahap pembekalan, peserta memperoleh materi teori sekaligus praktik sebagai persiapan menghadapi uji kompetensi.
Ketua LSP Polbeng Zainal Abidin menyatakan bahwa penyerahan sertifikat menjadi bagian penting dari rangkaian program yang dijalankan bersama Pertamina. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat terus dikembangkan, tidak hanya pada skema Welding Supervisor, tetapi juga pada berbagai skema sertifikasi kompetensi lain yang dimiliki LSP Polbeng.
“Harapannya, kegiatan ini dapat terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya dan berkembang ke berbagai skema kompetensi lainnya. Ini merupakan bentuk kepedulian industri bersama Politeknik Negeri Bengkalis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Bengkalis,” ujarnya.
Baca Juga:
Dampak bagi SDM dan Dunia Kerja
Melalui program ini, Polbeng dan PT Pertamina Patra Niaga RU Dumai Production Sungai Pakning menunjukkan kolaborasi antara pendidikan vokasi dan industri dalam mendukung peningkatan kompetensi masyarakat tempatan. Bagi Polbeng, kerja sama tersebut juga memperkuat peran LSP dalam menyediakan layanan sertifikasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Sertifikasi BNSP Welding Supervisor sendiri menjadi pengakuan formal atas kemampuan pengawasan pekerjaan pengelasan, sebuah kompetensi yang dibutuhkan di sektor industri dan energi. Dengan dimilikinya sertifikat tersebut, para peserta memiliki bukti kompetensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing di pasar kerja.
Langkah ini sejalan dengan tren penguatan kompetensi tenaga kerja nasional. Pemerintah melalui berbagai kementerian terus mendorong sertifikasi profesi sebagai instrumen peningkatan kualitas SDM. Sejumlah inisiatif lain juga menempatkan sertifikasi sebagai pintu masuk bagi pelaku usaha untuk naik kelas, seperti yang tergambar dalam upaya Sertifikasi Halal UMK.
Di sisi lain, kolaborasi pendidikan vokasi dengan industri menjadi model yang terus diperluas di berbagai daerah. Keterlibatan perusahaan melalui program TJSL memungkinkan pelatihan dan sertifikasi berjalan tanpa membebani peserta. Model semacam ini juga memperkuat keterkaitan antara kebutuhan perusahaan dan ketersediaan tenaga kerja terampil di sekitar wilayah operasi.
Politeknik Negeri Bengkalis melalui LSP Polbeng menyatakan kesiapan untuk memperluas skema sertifikasi ke depan. Selain Welding Supervisor, LSP Polbeng memiliki sejumlah skema kompetensi lain yang dapat difasilitasi untuk kebutuhan industri maupun masyarakat umum. Dengan begitu, kerja sama yang telah dibangun bersama Pertamina dapat menjadi fondasi bagi program-program lanjutan.
Keberhasilan 20 peserta menyelesaikan rangkaian pelatihan dan uji sertifikasi menunjukkan bahwa permintaan terhadap kompetensi teknis di wilayah Bengkalis dan sekitarnya tetap tinggi. Hal ini juga menjadi sinyal bagi pemangku kepentingan lain untuk memperluas program serupa, baik melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan maupun kemitraan dengan lembaga pendidikan vokasi.
Bagi peserta, sertifikat BNSP Welding Supervisor berfungsi sebagai bukti formal yang dapat digunakan untuk melamar posisi pengawasan di proyek-proyek industri, termasuk sektor migas dan manufaktur. Sementara bagi perusahaan, ketersediaan tenaga kerja bersertifikat di sekitar wilayah operasi membantu memenuhi kebutuhan pengawasan pekerjaan pengelasan sesuai standar kompetensi nasional.
Program Bengkalis Mahir 2026 menambah daftar inisiatif yang menggabungkan pelatihan, uji kompetensi, dan sertifikasi dalam satu paket. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diuji dan memperoleh pengakuan resmi atas kompetensinya. Dengan demikian, hasil pelatihan dapat langsung diukur dan diakui oleh industri.
Sejumlah agenda penguatan ekonomi dan ketenagakerjaan nasional turut menjadi konteks bagi program ini. Pemerintah, misalnya, melanjutkan sejumlah insentif di bidang ekonomi dan ketenagakerjaan hingga 2027, sebagaimana terangkum dalam artikel Insentif Ekonomi 2027. Kebijakan tersebut menjadi latar bagi upaya peningkatan kualitas SDM di daerah, termasuk melalui sertifikasi profesi.
Di arena yang lebih luas, pameran dan forum bisnis juga menjadi kanal untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan ketersediaan tenaga kerja dan produk. Ajang seperti TEI 2026 yang menjaring buyer dari 113 negara dan diikuti 1.533 ekshibitor, seperti diberitakan dalam TEI 2026, memperlihatkan betapa pentingnya kompetensi teknis dalam rantai pasok global.
Sementara itu, penguatan ekosistem usaha kecil dan menengah melalui sertifikasi terus digenjot. Kementerian Perdagangan, misalnya, mengedukasi pelaku usaha agar memahami standar perlindungan konsumen, seperti tergambar dalam artikel Edukasi Perlindungan Konsumen. Pola serupa terlihat pada upaya penguatan ekosistem halal menjelang kewajiban sertifikasi pada 18 Oktober 2026.
Kolaborasi perguruan tinggi vokasi dengan dunia usaha juga menjadi bagian dari strategi pengembangan talenta. Keterlibatan kampus dalam program inkubasi dan pengembangan keterampilan, seperti yang dilakukan Campuspreneur 25 Kampus, menunjukkan bahwa sinergi pendidikan dan industri menjadi arus utama dalam menyiapkan tenaga kerja.
Dengan sertifikat yang telah diterima, para peserta Bengkalis Mahir 2026 kini memiliki modal untuk mengambil peran pengawasan di sektor pengelasan. Sementara Polbeng dan Pertamina menegaskan komitmen untuk melanjutkan program serupa pada tahun-tahun berikutnya. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kesepakatan kerja sama lanjutan dan ketersediaan skema sertifikasi yang relevan dengan kebutuhan industri di wilayah tersebut.
[ META_DESCRIPTION]
20 peserta Program Bengkalis Mahir 2026 menerima sertifikat BNSP Welding Supervisor dari LSP Polbeng dalam kolaborasi vokasi dan industri bersama Pertamina.























