Padasuka.tv – Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri membuka TikTok FoodFest 2026 di Hutan Kota Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (26/9), dan langsung mengajak pelaku UMKM kuliner memanfaatkan teknologi digital serta inovasi produk untuk naik kelas. Festival yang digelar TikTok Group Indonesia pada 26—27 September 2026 ini menghadirkan 25 merek dan 43 pelaku usaha kuliner, sekaligus melibatkan sejumlah kreator konten bidang kuliner.
Dalam sambutannya, Wamendag Roro menegaskan bahwa kualitas produk saja tidak lagi cukup. Ia mendorong pelaku usaha memperkuat merek, memahami kebutuhan konsumen, dan mengoptimalkan teknologi dalam pengembangan usaha. “Kami ingin mendorong UMKM kuliner lokal makin naik kelas, meningkatkan kualitas produk, memperkuat merek, memahami kebutuhan konsumen, serta memanfaatkan teknologi secara optimal dalam pengembangan usaha,” ujar Wamendag Roro.
Data yang dipaparkan Kementerian Perdagangan menunjukkan lebih dari 6 juta konten kuliner dengan tagar seperti #Kuliner dan #JajananTikTok telah membuat kuliner lokal viral dan diburu pembeli. Ekosistem digital dinilai terbukti menjadi rumah bagi jutaan pelaku usaha untuk berkembang dan memperluas jangkauan pasar. Pemerintah pun memposisikan festival ini sebagai ruang kolaborasi, bukan sekadar perayaan kekayaan kuliner Nusantara.
Konten Kuliner Tumbuh 52 Persen, TikTok Jadi Etalase Baru
Head of Industry TikTok Indonesia, Zaheer Travadi, menyebut kuliner sebagai kekuatan ekonomi besar yang kini merambah ranah digital. Menurutnya, pengguna platform menyimpan resep-resep favorit, dan konten seputar makanan di TikTok tumbuh sebesar 52 persen dari tahun ke tahun. Angka itu menjadi sinyal bahwa perilaku konsumen bergeser: keputusan membeli makin sering dimulai dari layar ponsel, bukan dari etalase fisik.
Wamendag Roro menambahkan pesan praktis bagi pelaku UMKM kuliner. Ia meminta mereka tidak hanya menjual makanan yang enak, tetapi juga menghadirkan cerita autentik, konten menarik, dan proses transaksi yang mudah. “Kenali konsumen, ikuti perkembangan tren dengan tetap mempertahankan identitas dan keunikan produk lokal yang menjadi kekuatan utama. Saat ini, konsumen tidak cuma membeli rasa, tetapi juga membeli cerita, pengalaman, dan nilai di balik sebuah produk,” pungkasnya.

Baca Juga:
Bagi pelaku usaha, pesan itu bukan retorika kosong. Nadya, perwakilan UMKM kuliner Geroz yang ikut serta dalam festival, mengaku telah memiliki 27 varian rasa camilan yang sebagian besar dipasarkan lewat platform daring seperti TikTok Shop. Keikutsertaannya di TikTok FoodFest 2026 bertujuan memperkenalkan lebih banyak produk kepada masyarakat dan memperluas saluran penjualan di luar platform daring. Langkah Geroz menggambarkan pola yang makin lazim: kanal digital sebagai pintu masuk, kanal luring sebagai penguat.
Pemerintah tampaknya ingin tren ini berlanjut. Dorongan agar UMKM naik kelas sejalan dengan agenda yang sebelumnya disampaikan Wamendag Roro soal talenta digital RI, di mana pelaku usaha didorong menjadi produsen di ekosistem digital, bukan sekadar konsumen. Dalam konteks kuliner, posisi produsen berarti menguasai cerita produk, mengelola kanal penjualan, dan membaca data konsumen sendiri.
Kolaborasi dan Peluang Baru di Ekosistem Kuliner
Wamendag Roro menyatakan festival ini bukan hanya ajang perayaan. “Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya merayakan kekayaan kuliner Nusantara secara langsung, tetapi juga mendorong terciptanya kolaborasi dan peluang baru bagi pelaku usaha kuliner lokal,” ujarnya. Kolaborasi yang dimaksud mencakup pertemuan antara merek, pelaku usaha, dan kreator konten dalam satu ruang yang sama selama dua hari.
Skala acara memperlihatkan bahwa platform digital kini berperan sebagai penghubung antara produsen kecil dan pasar luas. Kehadiran 25 merek serta 43 pelaku usaha kuliner menunjukkan bahwa ekosistem ini tidak lagi didominasi pemain besar. Namun, tantangan tetap ada: konsistensi kualitas, kemampuan produksi saat permintaan melonjak, dan pengelolaan transaksi yang mulus menjadi pekerjaan rumah yang tidak selesai hanya dengan viral di beranda.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan juga aktif membuka jalur pasar lain bagi produk dalam negeri. Sebelumnya, Menhaj disebut membuka peluang produk Indonesia masuk pasar haji Saudi, sebuah kanal ekspor yang relevan bagi produk makanan olahan. Sementara di ranah program prioritas nasional, Badan Gizi Nasional membuka pengadaan jasa perorangan 2025 dalam rangka program MBG yang turut menyentuh rantai pasok pangan dan katering.
Rangkaian kebijakan itu menempatkan kuliner sebagai sektor yang bersinggungan dengan banyak agenda: digitalisasi UMKM, ekspor produk halal, hingga penyediaan pangan bergizi. Bagi pelaku usaha, artinya peluang tidak tunggal. Kanal daring, pasar ekspor, dan pengadaan pemerintah bisa dibuka bersamaan, asalkan kapasitas produksi dan standar mutu terjaga. Informasi soal pengadaan lain juga tersedia lewat pengumuman pengadaan jasa lainnya yang dapat menjadi rujukan pelaku usaha katering.
Yang perlu dicatat, ekosistem digital bukan jaminan otomatis. Data 6 juta konten kuliner dan pertumbuhan 52 persen konten makanan menunjukkan besarnya perhatian audiens, tetapi perhatian tidak selalu berbanding lurus dengan pembelian berulang. Di titik ini, pesan Wamendag Roro soal cerita autentik dan transaksi mudah menjadi relevan: viral membuka pintu, kualitas dan layanan yang menahan pelanggan tetap di dalam.
TikTok FoodFest 2026 berlangsung hingga 27 September 2026 di Hutan Kota GBK, Jakarta. Bagi pelaku UMKM kuliner yang belum terjun ke kanal digital, dua hari festival ini bisa dibaca sebagai peta jalan sederhana: kenali konsumen, rawat identitas produk lokal, dan pastikan pembeli bisa bertransaksi tanpa hambatan.























