Padasuka.tv – Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief, menegaskan bahwa keberlangsungan organisasi keagamaan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi kelembagaan, tetapi juga resiliensi keuangan jemaah. Pernyataan itu disampaikan dalam Pengajian PP Muhammadiyah bertema “Muhammadiyah dan Kemandirian Ekonomi Umat” di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat malam (25/9).
Menurut Hilman, penguatan dan kemandirian ekonomi organisasi maupun umat ke depan bukan perkara mudah. Ia berharap narasi tentang ekonomi Muhammadiyah dan umat dapat diterjemahkan secara konkret, sebab isu ini sudah terdengar nyaring dan dibawakan di banyak forum. Salah satu terjemahan konkret yang ia contohkan adalah pendirian Koperasi Syariah Menara 62 di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat. Langkah kecil itu diharapkan menjadi wadah bersama.
Meski Muhammadiyah telah bergerak di berbagai bidang yang beririsan dengan ekonomi, Hilman menilai tidak semua struktur dan jaringan persyarikatan siap serta memiliki mental wirausaha yang kuat. “Ayo buat pabrik, ini jaringannya kuat, teknologinya kita ada, tempatnya kita ada. Tapi kalau mental belum terbangun kita belum bisa,” ungkap Hilman.
Industri Halal dan Keuangan Syariah Jadi Pekerjaan Rumah
Hilman menyoroti posisi Muhammadiyah dalam industri halal dan keuangan syariah yang dinilainya belum menonjol. Padahal, jika diukur, Muhammadiyah memiliki hampir semua sumber daya yang dibutuhkan. “Tapi dalam industri syariah kita belum unggul, termasuk juga keuangan syariah. Kita belum punya produk yang kuat dalam konteks keuangan syariah,” ujarnya.
Ekosistem filantropi Muhammadiyah disebut sudah berjalan, namun untuk lembaga keuangan, organisasi ini dinilai masih belum kuat sebagaimana yang diharapkan. Hilman berharap Muhammadiyah dapat menjadi penopang industri keuangan syariah dan industri halal, sebab keduanya masih menjadi pekerjaan rumah besar dengan segala sumber daya yang dimiliki. Langkah penguatan pilar ekonomi sebenarnya sudah terlihat dari sejumlah inisiatif yang pernah dijalankan, seperti yang tergambar dalam pemberitaan Muhammadiyah Bangun Mentari Mart.
Ia juga menyinggung soal definisi umat yang kerap dipersempit. Bagi Muhammadiyah, umat bukan hanya mereka yang jauh, tetapi juga mereka yang dekat. Karena itu, aksi memandirikan ekonomi umat dapat dimulai dari lingkaran terdekat. “Umat itu kita, keluarga lingkungan organisasi kita, anggota kita itu umat. Kadang-kadang ketika kita berdiskusi, umat itu orang lain di luar sana yang jauh,” ungkapnya. “Karena itu kita perlu sekali lagi mencoba menerjemahkan, bagaimana di lingkungan kita sendiri, keluarga, jemaah itu punya gerakan kolektif,” sambung Hilman.
Baca Juga:
Angkatan Muda Muhammadiyah Diminta Masuk Sektor Fashion
Salah satu sumber daya besar yang dimiliki persyarikatan adalah Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM). Kelompok ini dinilai dapat memainkan peran penting dalam industri fashion bagi generasi milenial hingga Z. Hilman melihat belum ada bisnis fashion yang digerakkan anak-anak Muhammadiyah yang leading dan menjadi tren di kalangan anak muda secara umum, padahal bisnis fashion di kalangan umat Islam sangat pesat.
“Coba ananda narasinya jangan seperti orang tua. Berat-berat semua. Ada yang bisa menyentuh aspek wirausaha, dunia fashion syariah umpamanya,” harap Hilman Latief. Secara umum, Muhammadiyah termasuk AMM diminta melihat lebih jeli peluang usaha dan bisnis untuk menguatkan gerakan ekonomi organisasi dan jemaah. Dunia masa kini dinilai telah dimudahkan teknologi digital yang membuka semakin banyak peluang berwirausaha, sehingga Hilman berpesan agar peluang yang ada tidak disia-siakan.
Dalam konteks yang lebih luas, Hilman mengajak belajar dari Cina masa kini soal menggerakkan ekonomi. Menurutnya, Cina menjadi negara besar dengan perputaran ekonomi yang tidak main-main di dunia. Umat Islam, katanya, tidak boleh menutup kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Cina. Ia mengingatkan bahwa dahulu pun ada Sahabat Nabi yang berdakwah sampai ke Cina. “Tapi poinnya kita belum punya mental seperti itu (penggerak ekonomi),” sambung Hilman.
Dinamika kebijakan ekonomi nasional turut menjadi latar yang relevan bagi agenda kemandirian ini. Sebelumnya, UU Reforma Agraria disahkan DPR dengan LPRA langsung di bawah presiden, sementara sektor pendidikan dan pengetahuan terus didorong sebagai fondasi kemajuan. Pembahasan isu semacam ini juga menjadi bagian dari liputan yang dihadirkan Padasuka TV sebagai media digital.
Bagi Muhammadiyah, pekerjaan rumahnya jelas: memperkuat lembaga keuangan syariah, masuk lebih dalam ke industri halal, dan membangun mental wirausaha di seluruh lapisan, mulai dari jemaah terdekat hingga angkatan muda. Tanpa itu, narasi kemandirian ekonomi umat berisiko berhenti sebagai wacana di ruang pengajian.























