Padasuka.tv – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya bertumpu pada kota-kota besar, melainkan dapat tumbuh dari daerah mana pun yang memiliki ekosistem pendidikan dan tradisi keilmuan yang kuat. Penegasan itu disampaikan Muhaimin saat menghadiri Wisuda ke-35 Universitas Ibrahimy di Situbondo, Jawa Timur, Selasa (22/09/2026), di hadapan lebih dari 500 wisudawan dan wisudawati.
Dalam sambutannya, Muhaimin mendorong perguruan tinggi untuk keluar dari pola business as usual dengan memperkuat inovasi, kreativitas, dan kolaborasi. Ia menilai keberadaan profesor, guru besar, maupun para ahli tidak otomatis menjamin keberhasilan sebuah program pembangunan apabila pelaksanaannya tidak konsisten dengan kaidah ilmu pengetahuan.
“Kemajuan bukan hanya di Jakarta, bukan hanya di Surabaya, Bandung, atau Medan. Kemajuan bisa tumbuh dan menjadi kekuatan utama di manapun, termasuk di Situbondo, kalau kita istiqomah dan konsisten pada fondasi ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Menko Muhaimin dalam siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Selasa (22/09/2026).
Sarjana Baru Dituntut Terus Belajar dan Beradaptasi
Muhaimin mengingatkan para wisudawan bahwa kelulusan bukan titik akhir, melainkan awal dari tantangan untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengubah ilmu yang dimiliki menjadi karya serta kontribusi nyata bagi masyarakat. Ia menyebut perkembangan teknologi informasi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, hingga menyelesaikan berbagai persoalan.
“Saatnya bekal ini menjadi modal kita untuk berkiprah dan berkarya serta mengabdi seterusnya bagi umat, masyarakat dan bangsa. Tantangan hari ini dengan berbagai perkembangan dan perubahan yang terus terjadi begitu cepat akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi informasi dan teknologi digital, telah merubah seluruh cara pandang dunia, cara kerja dunia dan merubah pola hidup baru dengan tatanan baru,” ucap Muhaimin.
Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan teknologi perlu berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan agar kemajuan teknologi tetap memberikan manfaat bagi masyarakat. “Kita harus betul-betul mampu mengadaptasikan diri dan memposisikan diri di tengah berbagai kecerdasan buatan yang mengikuti nilai-nilai kemanusiaan kita,” katanya.

Ia juga menyoroti bahwa selain teknologi, generasi muda menghadapi perubahan geopolitik, dinamika ekonomi global, dan krisis iklim. Situasi tersebut, lanjut Muhaimin, membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu membaca perubahan dan mengambil peran dalam mencari solusi. Isu perlindungan sosial bagi kelompok rentan menjadi salah satu perhatian Kemenko PM, sebagaimana terlihat dalam upaya Perlindungan Pengemudi Ojol Tuli yang terus diperkuat kementerian tersebut.
Dalam konteks itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk memastikan ilmu pengetahuan menjadi fondasi pembangunan. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga perlu melahirkan gagasan, inovasi, dan sumber daya manusia yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
“Banyak program pembangunan gagal bukan karena tidak ada profesor, guru besar, atau ahli. Kegagalan diawali dari ketidakkonsistenan atau tidak istiqomah terhadap kaidah-kaidah ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang menjadi pijakan implementasi program,” jelasnya.
Baca Juga:
Kemenko PM Buka Peluang Kerja Sama dengan Universitas Ibrahimy
Dalam kesempatan tersebut, Muhaimin menyambut baik peluang kerja sama dengan Universitas Ibrahimy dan menyatakan kesiapan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat untuk mendorong perguruan tinggi tersebut menjadi bagian dari kekuatan pemberdayaan masyarakat. Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan kementerian yang menempatkan pemberdayaan sebagai instrumen utama dalam menjaga keberlanjutan ekonomi lokal, seperti yang tercermin dalam pendekatan yang mengutamakan Kemandirian Pengemudi serta kelompok masyarakat rentan lainnya.
Muhaimin berharap para lulusan tidak hanya membawa gelar akademik, tetapi juga semangat untuk terus belajar, berkarya, dan menjadi pemimpin perubahan yang memberi manfaat bagi masyarakat dan bangsa. Pesan itu menjadi relevan di tengah kebutuhan Indonesia akan sumber daya manusia yang mampu menjawab persoalan struktural, termasuk persoalan gizi dan kesehatan masyarakat yang belakangan menjadi sorotan publik melalui isu Keracunan MBG yang mendorong desakan evaluasi kebijakan dari berbagai pihak.
Muhaimin menutup dengan menegaskan bahwa konsistensi pada kaidah ilmu pengetahuan merupakan kunci utama. Menurutnya, kemajuan tidak lahir dari simbol-simbol akademik semata, melainkan dari komitmen untuk terus memperbaiki, menyempurnakan, dan mengaplikasikan ilmu bagi kepentingan masyarakat luas.
“Saya ingin menyampaikan sebuah kenyataan yang harus kita antisipasi bersama, terutama kepada seluruh sarjana baru untuk tidak pernah berhenti di titik ini, untuk terus belajar, untuk terus memperbaiki, untuk terus menyempurnakan seluruh perolehan ilmu pengetahuan, prestasi yang diraih dan berbagai pengalaman, pengajaran dan pendidikan di universitas kita tercinta ini,” tegasnya.
Wisuda ke-35 Universitas Ibrahimy diikuti lebih dari 500 wisudawan dan wisudawati. Prosesi tersebut menjadi momentum bagi kampus di daerah untuk menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berkontribusi langsung pada pembangunan nasional, bukan sekadar mengejar capaian akademik formal.
Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat melalui Biro Komunikasi Pengelolaan Data dan Informasi mencatat pernyataan Menko Muhaimin tersebut dalam siaran pers bernomor 216/KPI/HM.04/09/2026. Publik dapat mengikuti kanal resmi kementerian melalui Instagram @kemenkopmri, TikTok @kemenkopm, dan X @kemenkopmri untuk informasi lebih lanjut.
Kebijakan pemberdayaan masyarakat yang digulirkan Kemenko PM juga menyentuh sektor-sektor lain, mulai dari penguatan akses pasar bagi UMKM hingga perlindungan pekerja informal. Pemerintah, misalnya, menyiapkan anggaran untuk menjaga layanan kesehatan nasional, sebagaimana tercermin dalam langkah Pemerintah Siapkan Rp20 Triliun untuk program Jaminan Kesehatan Nasional. Di sisi lain, kerja sama internasional juga terus dijajaki untuk memperluas peluang ekonomi, termasuk melalui forum Kerja Sama Energi RI-Rusia yang dibahas dalam forum ekonomi internasional.
Dengan demikian, pesan Muhaimin di Situbondo menegaskan satu hal: pembangunan tidak boleh berhenti pada seremoni, melainkan harus berlanjut pada konsistensi penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai fondasi kemajuan bangsa.
[ META_DESCRIPTION]
Menko Muhaimin menegaskan kemajuan bangsa tumbuh dari konsistensi ilmu pengetahuan, bukan hanya kota besar. Ia menyampaikan pesan itu di Wisuda ke-35 Universitas Ibrahimy, Situbondo.























