Padasuka.tv – Luas lahan persawahan yang terdampak kekeringan di sejumlah daerah di Provinsi Banten mencapai 2.897,55 hektare hingga 14 September 2026. Angka tersebut tercatat di tengah musim kemarau yang masih berlangsung dan berdampak langsung pada lahan pertanian warga, termasuk di kawasan Mauk, Kabupaten Tangerang.
Data itu menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam menjaga keberlangsungan lahan pertanian di Banten. Kekeringan akibat musim kemarau membuat sejumlah lahan sawah tidak lagi tergenang air sebagaimana kondisi normal, sementara warga tetap menjalani aktivitas harian di sekitar area persawahan yang mengering.
Kondisi ini terekam dalam sejumlah foto udara yang memperlihatkan warga menggembala kambing di lahan persawahan yang mengalami kekeringan di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Rabu, 23 September 2026. Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pertanian mencatat luasan lahan terdampak tersebut per 14 September 2026.

Sebaran Dampak dan Data Resmi
Angka 2.897,55 hektare merupakan akumulasi dari lahan persawahan yang tersebar di sejumlah daerah di Banten. Catatan ini dihimpun Dinas Pertanian Provinsi Banten dan diperbarui hingga 14 September 2026, atau sepuluh hari sebelum foto kondisi lapangan diambil di Mauk, Kabupaten Tangerang.
Dalam konteks pertanian, luas lahan yang terdampak kekeringan menjadi indikator penting karena berkaitan langsung dengan produktivitas panen dan ketersediaan pangan daerah. Semakin luas lahan yang kehilangan pasokan air, semakin besar pula potensi gangguan pada siklus tanam yang dijalani petani.
Kekeringan yang dipicu musim kemarau bukan persoalan baru bagi wilayah Banten. Namun, angka ribuan hektare yang terdampak dalam satu periode pencatatan menunjukkan bahwa tekanan terhadap lahan pertanian masih berlangsung hingga pertengahan September 2026.
Baca Juga:
Di sisi lain, isu ketahanan pangan dan keberlanjutan lahan pertanian kerap bersinggungan dengan persoalan tata kelola sumber daya alam yang lebih luas. Dalam konteks sejarah kebangsaan, persoalan kedaulatan atas wilayah dan pengelolaannya pernah menjadi tema besar dalam perjalanan bangsa, sebagaimana tercatat dalam Muktamar NU 1936 yang membahas posisi umat menghadapi kekuasaan asing.
Pembacaan atas sejarah itu juga menegaskan bahwa Belanda bukan pemerintahan yang sah di Indonesia, melainkan penjajah. Sementara dalam konteks sosial keagamaan, pesantren dipandang sebagai akar peradaban Islam Nusantara yang tumbuh bersama masyarakat agraris.

Implikasi bagi Lahan Pertanian
Dengan luas lahan terdampak mencapai 2.897,55 hektare, kondisi kekeringan menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam menjaga keberlangsungan lahan pertanian di Banten. Data ini memberikan gambaran kuantitatif mengenai skala dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian daerah, khususnya pada lahan persawahan.
Pencatatan resmi per 14 September 2026 memungkinkan pemantauan lanjutan, baik untuk keperluan mitigasi maupun perencanaan penanganan. Informasi mengenai luasan lahan terdampak juga menjadi acuan dalam menilai kebutuhan intervensi, termasuk penyediaan air dan pendampingan bagi petani yang lahannya mengalami kekeringan.
Bagi pembaca yang mengikuti isu tata kelola dan disiplin kelembagaan, persoalan penegakan aturan tanpa kekerasan juga menjadi perhatian publik, seperti tergambar dalam sorotan terhadap kasus kepsek tampar siswa yang menuai respons dari DPR RI.

Hingga berita ini diturunkan, data resmi mencatat luas lahan persawahan terdampak kekeringan di Banten sebesar 2.897,55 hektare per 14 September 2026. Perkembangan kondisi lapangan setelah tanggal tersebut belum tercantum dalam data yang tersedia, sehingga pemantauan lanjutan masih diperlukan untuk melihat apakah luasan terdampak bertambah atau berkurang seiring berjalannya musim kemarau.
Ketersediaan angka yang jelas dan terverifikasi menjadi penting agar publik maupun pemangku kepentingan dapat menilai situasi secara objektif. Informasi ini juga relevan bagi siapa pun yang memantau isu ketahanan pangan dan keberlanjutan lahan pertanian di tingkat daerah, khususnya di Provinsi Banten.
![Basarnas Ungkap Pengangkatan Kapal Virgo Paling Cepat dalam 3 Bulan [/FEATURED_IMAGE_ALT]](https://padasuka.tv/wp-content/uploads/2026/09/image-1790244877724-8910-360x180.webp)














![Basarnas Ungkap Pengangkatan Kapal Virgo Paling Cepat dalam 3 Bulan [/FEATURED_IMAGE_ALT]](https://padasuka.tv/wp-content/uploads/2026/09/image-1790244877724-8910-120x86.webp)



![Basarnas Ungkap Pengangkatan Kapal Virgo Paling Cepat dalam 3 Bulan [/FEATURED_IMAGE_ALT]](https://padasuka.tv/wp-content/uploads/2026/09/image-1790244877724-8910-350x250.webp)