Padasuka.tv – Kementerian Perdagangan (Kemendag) resmi membuka South-South and Triangular Cooperation (SSTC) on Trade and Investment Promotion for African Countries 2026 di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP), Jakarta, Senin (28/9). Pelatihan yang berlangsung 27 September–8 Oktober 2026 ini diikuti 14 peserta dari enam negara Afrika, yaitu Ethiopia, Mozambik, Tanzania, Sudan Selatan, Somalia, dan Rwanda, plus dua pengamat dari East African Community (EAC) dan AfCFTA Secretariat.
Pembukaan dilakukan langsung oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan (BPSDMP) Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono. Ia menegaskan bahwa perubahan lanskap perdagangan global menuntut setiap negara memiliki institusi kuat dan SDM yang kompeten serta adaptif. “Indonesia siap berbagi pengalaman dalam promosi perdagangan, pengembangan ekspor, fasilitasi perdagangan, perdagangan digital, internasionalisasi usaha kecil dan menengah (UKM), serta pengembangan SDM perdagangan,” ujar Djatmiko dalam sambutannya.
Ini adalah penyelenggaraan kedua SSTC setelah program perdana pada 2025. Tahun ini, fokus pelatihan diarahkan ke negara-negara Afrika Timur. Turut hadir dalam pembukaan Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Setya Utama, Kepala Perwakilan JICA Indonesia Takeda Sachiko, Presiden Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) Tetsuya Watanabe, serta Kepala PPEJP Abu Amar.
Data Perdagangan dan Target Kemitraan
Angka menjadi dasar kuat diplomasi dagang ini. Pada 2023, total perdagangan Indonesia dengan Afrika mencapai USD 13,7 miliar. Sementara itu, Indonesia-Africa Forum (IAF) ke-2 di Bali pada 2024 mencatat kesepakatan bisnis senilai USD 3,5 miliar, melonjak tajam dibandingkan USD 568 juta pada IAF 2018.
Djatmiko menyebut Afrika sebagai kawasan yang sangat potensial, baik dari sisi jumlah penduduk, perdagangan, investasi, maupun sumber daya yang dimiliki. “Melalui SSTC, kami berharap hubungan Indonesia dengan negara-negara Afrika makin erat serta berkembang menjadi kerja sama yang lebih strategis dan komprehensif,” katanya.
Untuk memperkuat penetrasi pasar, Indonesia mengandalkan perwakilan perdagangan di kawasan tersebut, antara lain ITPC Johannesburg, ITPC Lagos, serta Atase Perdagangan RI Kairo. Berbagai produk Indonesia telah memasuki pasar Afrika, mulai dari produk makanan, alas kaki, tekstil dan produk tekstil, kertas, hingga produk otomotif.
Baca Juga:
Semangat Asia-Afrika dan Dukungan Jepang
Menteri Sekretaris Negara Setya Utama menempatkan program ini sebagai kelanjutan semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 yang menjunjung solidaritas, kesetaraan, saling menghormati, dan kemakmuran bersama. “Semangat Konferensi Asia-Afrika mengingatkan kita bahwa kerja sama antarnegara berkembang bukanlah transfer pengetahuan satu arah. Setiap negara membawa pengalaman, tantangan, dan solusi masing-masing,” ujar Setya.
Ia menambahkan, Indonesia tidak menempatkan pengalamannya sebagai satu-satunya model, melainkan sebagai referensi yang dapat dipertukarkan dengan pengalaman negara-negara Afrika. Pendekatan ini sejalan dengan upaya penguatan kapasitas UMKM yang juga menjadi perhatian dalam berbagai program pemerintah, seperti yang terlihat pada UMKM Kuliner Digital dan inisiatif Pengadaan Jasa Perorangan.
Dari sisi mitra pembangunan, Kepala Perwakilan JICA Indonesia Takeda Sachiko menyatakan SSTC 2026 merupakan kelanjutan program perdana 2025 yang capaiannya telah dipresentasikan pada 9th Tokyo International Conference on African Development (TICAD-9) pada Agustus 2025. Program ini merupakan implementasi Memorandum of Cooperation (MoC) antara JICA dan Kementerian Luar Negeri RI yang ditandatangani pada Indonesia-Africa Forum September 2024.
Kemitraan tersebut mendukung pencapaian Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 dan Agenda Afrika 2063 melalui kerja sama triangular yang memadukan pengalaman dan keunggulan Indonesia dan Jepang. JICA sendiri telah mendukung PPEJP dan pendahulunya, Indonesia Export Training Center (IETC), sejak 1986 melalui hibah Official Development Assistance (ODA) dan proyek kerja sama teknis.

Materi pelatihan memadukan pembelajaran teoretis dan praktis mengenai perdagangan dan investasi. Cakupannya meliputi perjanjian dan negosiasi perdagangan internasional, kerja sama ekonomi ASEAN, promosi ekspor, pengembangan UKM, pemasaran digital, kebijakan investasi, dan perizinan berusaha. Peserta juga dijadwalkan mengunjungi PT Indofood, Permanent Trade Exhibition Kementerian Perdagangan, Sekretariat ASEAN, ERIA, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi.
Djatmiko menilai pengalaman Indonesia dalam integrasi ekonomi ASEAN dapat menjadi referensi bagi negara-negara Afrika di tengah penguatan integrasi ekonomi melalui African Continental Free Trade Area (AfCFTA). Menurutnya, integrasi ekonomi regional tidak cukup hanya dengan kesepakatan, tetapi juga membutuhkan institusi yang kuat, fasilitasi perdagangan yang efektif, pelaku usaha yang kompetitif, kebijakan investasi yang mendukung, serta SDM yang mumpuni.
“Program ini tidak boleh berhenti di ruang pelatihan. Ukuran keberhasilannya yaitu bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat diterjemahkan menjadi penguatan jejaring kelembagaan, pertukaran pengetahuan yang berkelanjutan, kerja sama teknis lanjutan, serta hasil yang nyata dan terukur melalui rencana aksi para peserta,” lanjut Djatmiko.
Salah satu peserta, Lulla Kabijukya Ali, Inspector for Market Infrastructure Development, Ministry of Trade and Industry, South Sudan, mengapresiasi pelaksanaan SSTC. Menurutnya program ini memberi kesempatan bagi peserta mempelajari pengalaman Indonesia di bidang perdagangan dan industri, termasuk melihat langsung penerapan praktik yang dapat menjadi referensi di negara asal. “Saya antusias mengikuti program ini dan yakin akan memperoleh banyak pembelajaran dari pengalaman Indonesia,” ujar Lulla.
Pada akhir pelatihan, setiap peserta akan menyusun dan mempresentasikan rencana aksi untuk menerapkan pengetahuan dan praktik yang diperoleh sesuai kebutuhan masing-masing negara. Kerangka kerja sama pembangunan kapasitas semacam ini juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menekankan pentingnya kesiapan SDM, sebagaimana terlihat pada program Program MBG yang menuntut kompetensi tenaga kerja di lapangan.
Bagi Indonesia, SSTC 2026 menjadi instrumen diplomasi dagang yang mengikat komitmen jangka panjang dengan kawasan Afrika. Keberlanjutan program ini akan diukur dari realisasi rencana aksi peserta, penguatan jejaring kelembagaan, serta pertukaran pengetahuan yang berlanjut setelah pelatihan berakhir. Pemerintah menegaskan bahwa kemitraan Selatan-Selatan dan triangular bukan sekadar forum seremonial, melainkan kanal kerja sama teknis yang harus menghasilkan capaian terukur di masing-masing negara peserta.























