Padasuka.tv – Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menjadi pembicara utama (keynote speaker) pada acara National Seaweed Forum 2026 yang digelar di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan sejumlah pejabat tinggi lintas kementerian dan perwakilan lembaga internasional untuk membahas arah pengembangan industri rumput laut nasional.
Kehadiran Menperin dalam forum tersebut menegaskan posisi sektor rumput laut sebagai salah satu komoditas yang masuk dalam peta pengembangan industri pengolahan di dalam negeri. Rumput laut selama ini dikenal sebagai bahan baku bernilai tambah tinggi, mulai dari produk pangan, kosmetik, hingga bahan baku industri lainnya.
Dalam acara yang sama, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menerima cinderamata dari Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy. Penyerahan cinderamata ini menjadi penanda kerja sama lintas kementerian dalam mendorong pengembangan industri berbasis sumber daya kelautan.
Kolaborasi Lintas Kementerian dan Lembaga Internasional
National Seaweed Forum 2026 dihadiri sejumlah tokoh kunci. Selain Menperin Muhammad Sarmuji dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, hadir pula Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Dari sisi perencanaan pembangunan, turut hadir Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN, Leonardo Adypurnama Alias Teguh Sambodo.
Keterlibatan lembaga internasional terlihat dari kehadiran UNIDO Representative Sub Regional Office, Marco Kamiya. Kehadiran perwakilan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) menunjukkan bahwa pengembangan industri rumput laut Indonesia memiliki dimensi kerja sama global, khususnya dalam penguatan rantai nilai industri pengolahan.
Setelah rangkaian acara, para pejabat dan perwakilan lembaga berfoto bersama. Dalam sesi tersebut, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji tampak berada di posisi kedua dari kanan, bersanding dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy di posisi ketiga dari kanan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di posisi paling kanan, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN Leonardo Adypurnama Alias Teguh Sambodo di posisi kiri, serta UNIDO Representative Sub Regional Office Marco Kamiya.
Komposisi peserta forum ini memperlihatkan bahwa isu rumput laut tidak lagi dibahas secara sektoral semata. Ada tiga kementerian yang terlibat langsung, ditambah lembaga perencanaan pembangunan nasional dan organisasi industri internasional. Pola ini mengindikasikan pendekatan lintas sektor dalam menggarap potensi ekonomi kelautan.
Baca Juga:
Posisi Rumput Laut dalam Peta Industri Nasional
Rumput laut merupakan komoditas yang selama ini menjadi andalan sektor kelautan dan perikanan Indonesia. Pengembangan industri hilir rumput laut membutuhkan dukungan dari sisi kebijakan industri, perencanaan pembangunan, hingga standar internasional. Karena itu, forum ini mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang kelembagaan.
Kementerian Perindustrian memiliki peran dalam mendorong pengolahan bahan baku menjadi produk bernilai tambah. Sementara Kementerian PPN/Bappenas berperan dalam menyusun kerangka perencanaan pembangunan yang mencakup sektor pangan, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Adapun Kementerian Kelautan dan Perikanan menangani sisi hulu, termasuk budidaya dan produksi rumput laut.
Dalam konteks industri nasional, agenda penguatan sektor pengolahan terus menjadi perhatian. Kementerian Perindustrian sebelumnya membuka Seleksi Lembaga Verifikasi sebagai bagian dari pengawasan impor bahan berbahaya. Langkah serupa juga terlihat pada sektor tekstil, di mana pemerintah memperpanjang Restrukturisasi Mesin Tekstil hingga 15 November 2026.
Di sisi hilirisasi produk konsumsi, Kementerian Perdagangan memfasilitasi Sertifikasi Barcode bagi UMKM agar mampu menembus pasar ritel modern. Kebijakan-kebijakan ini menunjukkan pola yang konsisten: pemerintah mendorong pengolahan dalam negeri, penguatan daya saing, dan perluasan akses pasar.
Pendekatan serupa juga terlihat pada ajang pameran industri. Trade Expo Indonesia 2026 menghadirkan Zona KoTeKa yang mempertemukan komoditas kopi, teh, dan kakao dalam satu atap. Format pameran semacam ini memperlihatkan upaya mengangkat komoditas berbasis sumber daya alam ke rantai nilai yang lebih tinggi.
Bagi sektor rumput laut, tantangan utamanya bukan pada ketersediaan bahan baku, melainkan pada kapasitas pengolahan dan penyerapan pasar. Forum semacam National Seaweed Forum 2026 berfungsi sebagai ruang koordinasi untuk menyelaraskan kebijakan hulu-hilir, sekaligus menyamakan persepsi antara pemerintah, lembaga perencanaan, dan mitra internasional.
Kehadiran UNIDO dalam forum ini juga membuka peluang kerja sama teknis, termasuk penguatan standar mutu dan pengembangan kapasitas industri. Namun, detail kerja sama tersebut belum diumumkan dalam rilis yang tersedia.
Dari sisi kelembagaan, forum ini menegaskan bahwa pengembangan industri rumput laut berada di persimpangan tiga kementerian. Sinkronisasi kebijakan antara Kementerian Perindustrian, Kementerian PPN/Bappenas, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan akan menentukan seberapa cepat sektor ini bergerak dari bahan mentah menuju produk olahan.
National Seaweed Forum 2026 digelar pada 6 Oktober 2026 di Jakarta. Rangkaian acara mencakup sesi utama dengan Menperin sebagai pembicara, penyerahan cinderamata, dan sesi foto bersama para pemangku kepentingan. Tidak ada informasi tambahan mengenai target produksi, nilai investasi, atau kebijakan spesifik yang diumumkan dalam forum tersebut.
Perkembangan lanjutan dari forum ini akan bergantung pada tindak lanjut antar kementerian dan lembaga yang terlibat. Publik dan pelaku industri dapat memantau arahan kebijakan berikutnya melalui kanal resmi Kementerian Perindustrian.























