Oleh Yusuf Mars
Ketegangan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) belakangan ini tampak mereda. Pernyataan elite lebih terkendali, pertemuan silaturahmi digelar, dan istilah islah kembali sering diucapkan. Di permukaan, PBNU terlihat lebih tenang. Namun ketenangan ini belum tentu menandai selesainya konflik. Ibarat pepatah mengatakan seperti api dalam sekam, tidak menyala terang, tetapi masih menyimpan bara.
Konflik PBNU hari ini bukan lagi soal miskomunikasi atau perbedaan sikap personal. Tapi telah bergeser menjadi konflik yang bersifat struktural. Persoalan kewenangan, legitimasi kepemimpinan, serta tafsir atas aturan organisasi menjadi inti masalah yang belum tersentuh tuntas. Dalam konteks seperti ini, islah tidak cukup dimaknai sebagai pertemuan akrab atau seruan moral semata.
Forum-forum islah yang berlangsung sejauh ini memang penting untuk menurunkan eskalasi. NU memiliki tradisi kultural yang kuat dalam meredam konflik agar tidak meledak terbuka. Namun, meredam bukan berarti menyelesaikan. Sejumlah persoalan mendasar masih dibiarkan menggantung, seolah menunggu waktu dan momentum yang tepat.
Kondisi ini melahirkan konflik laten; tidak tampak keras di ruang publik, tetapi hidup dalam dinamika internal organisasi. Ketegangan hadir dalam sikap saling menunggu di tingkat elite, perbedaan pandangan antarstruktur, hingga kebingungan di wilayah dan cabang dalam membaca arah kepemimpinan PBNU. Konflik semacam ini justru lebih berbahaya karena bekerja dalam senyap.

Salah satu faktor yang membuat islah sulit terwujud adalah belum adanya dorongan kuat bagi semua pihak untuk benar-benar berdamai. Masing-masing kubu masih merasa memiliki pegangan. Ada yang bertumpu pada kontrol struktural dan administratif. Ada pula yang merasa memiliki legitimasi kultural dan moral. Selama keseimbangan ini masih terjaga, islah cenderung dipahami sebagai jeda, bukan penyelesaian akhir.
Di sisi lain, terdapat taruhan simbolik yang tidak kecil. Kepemimpinan di NU bukan hanya soal jabatan formal, tetapi juga soal kehormatan dan catatan sejarah. Mengalah sering dipersepsikan sebagai kekalahan, bukan sebagai kenegarawanan. Persepsi ini membuat kompromi menjadi mahal dan proses islah berjalan lambat.
Situasi tersebut menempatkan PBNU dalam fase abu-abu. Tidak sepenuhnya berkonflik, tetapi juga belum benar-benar berdamai. Kondisi ini mungkin bertahan dalam jangka pendek, namun sangat sensitif terhadap momentum. Keputusan sepihak, tafsir aturan yang kontroversial, atau manuver menjelang agenda besar organisasi berpotensi membuka kembali konflik secara terbuka.
Islah PBNU hari ini belum sungguh-sungguh terjadi. Ia masih menggantung—diucapkan, tetapi belum diputuskan. Konflik memang mereda, namun akar persoalan struktural belum disentuh secara serius. Selama tarik-menarik kewenangan dan ego kepemimpinan tetap ada, PBNU akan terus berada di wilayah abu-abu: tampak tenang, tetapi menyimpan bara yang sewaktu-waktu bisa menyala kembali.
Yusuf Mars Adalah CEO @PadasukaTV, CEO Lembaga Kajian Strategis Islam Nusantara dan Asia Tenggara (LEKSINAT), Mahasiwa Doktoral Sejarah Peradaban Islam Nusantara UNUSIA.























