Oleh: Yusuf Mars (Pemimpin Redaksi Padasuk.tv dan Founder Channel Youtube @PadasukaTV
“Kemenangan tidak pernah lahir di panggung. Ia lahir jauh sebelum itu, di ruang-ruang sunyi tempat strategi diputuskan, kepercayaan dibangun, dan kekuatan disatukan.”
— Sufmi Dasco Ahmad, 21 Oktober 2025.
Kalimat ini terdengar sederhana, tapi maknanya dalam banget. Sufmi Dasco seperti ingin bilang: kemenangan itu tidak tercipta saat lampu panggung menyala dan sorak-sorai terdengar, tapi jauh sebelumnya — di tempat sepi, di balik layar, di saat hanya segelintir orang yang tahu apa yang sedang disiapkan.
Kita sering mengira kemenangan itu soal siapa yang paling sering muncul di TV, siapa yang paling ramai di media sosial, atau siapa yang paling lantang bicara di panggung politik.
Padahal, seperti kata Dasco, kemenangan sesungguhnya lahir di ruang-ruang sunyi — di ruang rapat kecil, di pertemuan-pertemuan terbatas, di obrolan serius yang tak pernah disiarkan publik.
Di sanalah strategi matang diputuskan.
Di sanalah kepercayaan antar-tim dibangun.
Dan di sanalah kekuatan disatukan dalam diam.
Itulah yang kemudian melahirkan hasil besar: kemenangan Prabowo–Gibran di Pilpres 2024. Tidak terjadi tiba-tiba, tapi hasil dari kerja panjang dan disiplin senyap.

Istilah ruang sunyi ini menarik. Ia menggambarkan fase penting dalam setiap perjuangan: masa ketika kerja dilakukan tanpa tepuk tangan.
Dalam dunia politik, “ruang sunyi” itu bisa berarti ruang konsolidasi internal, diskusi strategi, bahkan momen refleksi ketika para pemimpin menyiapkan langkah dengan penuh perhitungan.
Bagi Dasco, ruang sunyi bukan tempat lemah — justru di situlah ketahanan dan kesolidan sebuah gerakan diuji.
Ucapan Dasco ini disampaikan menjelang Musyawarah Nasional Perempuan Indonesia Raya (PIRA). Artinya jelas: ia ingin menegaskan bahwa kemenangan partai atau perjuangan politik tidak hanya dibangun di atas pidato dan simbol, tapi juga lewat peran-peran sunyi yang dijalankan dengan tulus.
Para kader, terutama perempuan Gerindra, diingatkan untuk menjadi penjaga ruang sunyi itu — merawat kekompakan, menanamkan kepercayaan, dan memastikan partai tetap solid menghadapi segala dinamika.
Menariknya, kalimat Dasco menyebut tiga unsur: strategi, kepercayaan, dan kekuatan.
Ketiganya merupakan fondasi kemenangan yang bersifat kolektif, bukan personal.
Dengan kata lain, kemenangan yang sejati tidak mungkin lahir dari satu tokoh saja — ia merupakan hasil dari kerja bersama yang disatukan oleh visi dan kepercayaan.
Filosofi “ruang sunyi” Sufmi Dasco mengajarkan satu hal penting:
Jangan sibuk mengejar panggung, sibuklah menyiapkan diri.
Karena saat panggung itu tiba, hanya mereka yang matang di ruang sunyi yang siap berdiri tegak di bawah cahaya.
Kemenangan bukan soal siapa yang paling terlihat, tapi siapa yang paling siap — bahkan ketika tak ada yang melihat.
Filosofi “ruang sunyi” Sufmi Dasco adalah pengingat bahwa dalam setiap perjuangan — politik, sosial, maupun spiritual — hasil tidak pernah lahir dari sorak-sorai, melainkan dari keheningan yang penuh kesadaran.
Bahwa di balik setiap kemenangan, selalu ada proses panjang yang tak terlihat: doa, disiplin, kesetiaan, dan kerja sama.
Dalam dunia yang serba ingin tampil, pesan Dasco terasa kontras sekaligus relevan:
“Belajarlah dari ruang sunyi, karena di sanalah kemenangan sesungguhnya sedang disiapkan”.























