Jakarta, Padasuka.tv — Menjelang peringatan Hari Santri Nasional, ribuan santri dan tokoh Nahdlatul Ulama kembali mengingatkan publik tentang peran besar pesantren dan para kiai dalam sejarah lahirnya Republik Indonesia. Melalui tayangan live @PadasukaTV bertajuk “Jangan Nistakan Pesantren! Kiai dan Santri Penentu Lahirnya NKRI!”, para narasumber menegaskan bahwa pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga benteng moral dan penjaga kedaulatan bangsa. Acara yang disiarkan langsung pada Rabu malam pukul 19.30 WIB ini menghadirkan empat tokoh penting:
- Dr. A.S. Hikam, Menristek Era Presiden Gus Dur,
- Prof. Dr. Hanief Saha Ghafur, mantan Ketua PBNU Era Kiai Said,
- KH. Mukti Ali, Lc., MA, alumni Ponpes Lirboyo dan Al-Azhar Mesir,
- Yusuf Mars, Founder @PadasukaTV.
Dalam siaran tersebut, para narasumber menegaskan pentingnya memahami jasa besar kiai dan santri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Mereka menyoroti satu momentum krusial yang menjadi tonggak perlawanan umat Islam terhadap penjajahan — Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.
Ketika pasukan sekutu dan Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia, pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, menyerukan fatwa jihad fi sabilillah untuk mempertahankan kemerdekaan.
Seruan itu menggema dari pesantren ke pesantren, dari surau hingga ke pelosok desa — membangkitkan semangat perlawanan umat Islam dan rakyat Indonesia.
Gelombang jihad itulah yang kemudian meletus menjadi Pertempuran Surabaya 10 November 1945, yang kini kita kenal sebagai Hari Pahlawan.
Tanpa Resolusi Jihad dari pesantren, tidak akan ada kobaran semangat 10 November yang mengguncang dunia dan meneguhkan berdirinya Republik Indonesia.
Karena itu, para tokoh menegaskan, menistakan pesantren sama artinya dengan menistakan perjuangan bangsa.
“Pesantren adalah benteng republik. Kiai dan santri adalah penjaga moral Indonesia,” tegas Rere Mars Eksekutif Produser PadasukaTV.
Melalui tayangan ini, @PadasukaTV mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali menghormati peran pesantren dan para kiai — bukan hanya sebagai penjaga iman, tetapi juga penjaga eksistensi negara.






















